Showing posts with label Rectoverso Moment Winner. Show all posts
Showing posts with label Rectoverso Moment Winner. Show all posts

Wednesday, January 28, 2009

Rectoverso Moment Week#11 Winner

"4 Mei"
Oleh: Pritania Astari

Tanggal itu selalu terngiang-ngiang di kepala sejak saya tahu kapan tepatnya dia berulang tahun. Tidak pernah sedikit pun saya melupakan tanggal itu, layaknya menggenggam benda keramat yang tak mampu dan tak mau saya lepaskan. Begitu banyak perjuangan saya tempuh untuk mendapat tanggal itu. Bertanya pada kenalannya, saya tak berani. Takut mereka memberitahukan kepadanya. Bertanya pada teman dari temannya, mereka tidak tahu. Mengecek up-date ulang tahun di Friendster pun selalu tidak ada.

Suatu hari saya memberanikan diri untuk bertanya langsung padanya. Sebuah teks SMS pun saya kirimkan dengan hati berdebar. Selama ini SMS saya lebih sering diabaikan, tapi demi satu tanggal itu saya memberanikan diri untuk mengirimnya. Tentu saja saya tidak langsung bertanya to-the-point. Harus berbasa basi sedikit agar dia tidak merasa aneh. Sekitar setengah jam saya menunggu, ternyata dia membalasnya. Perasaan saya saat itu tidak bisa digambarkan. Saya bahagia sekali. Setelah beberapa kali berbalas SMS, saya pun menanyakan tentang hari ulang tahunnya. Agak lama ia membalas: 4 Mei.

Langsung saya rekam dan ingat tanggal itu baik-baik. 4 Mei. Lama saya menunggu untuk dapat mengetahui tanggal ulang tahunnya. Namun yang paling tidak saya sangka adalah, dia sendiri yang memberitahukan tanggal keramat itu. Tidak hanya SMS saya dibalas, apa yang selama ini saya cari pun akhirnya saya temukan.

4 Mei tiba. Subuh-subuh saya sudah bangun. Saya ingat sekali, hari itu hari Minggu. Sengaja saya pasang alarm lebih pagi dari biasanya karena hari itu saya niatkan untuk mengucapkan selamat kepadanya. Dua bulan lebih saya menunggu demi mendapatkan momen yang tepat untuk mengiriminya SMS lagi. Dan hari itu, tepat pada saat ulang tahunnya, adalah saat yang paling tepat. Buru-buru saya mengambil ponsel saya dan mulai mengetik. Cukup sederhana. Hanya mengucap: Wish you the happiest birthday ever and I hope all the best for you. Good luck. God bless.

Tidak lama kemudian sebuah SMS masuk. Saya menyempatkan diri untuk berbahagia dan berbangga hati sejenak, sambil menerka-nerka apa kiranya isi SMS itu. Namun Dan ternyata dia bertanya: Ini siapa? Tks sebelumnya.

Hati saya seperti tertusuk. Tidak ada semangat lagi. Namun saya coba mengalahkan ego saya, dan percakapan kami selanjutnya berjalan cukup baik. Syukurlah dia masih mengenal saya. Paling tidak masih tahu ketika saya menyebutkan nama.

Hampir tiga tahun saya menunggunya dan saat itu adalah kali terakhir dia membalas SMS saya. Hari itu, tanggal 4 Mei, dia telah menorehkan sejarah dalam hati saya sebagaimana hari itu juga bersejarah untuknya. Bahwa keringat apalagi darah tidak berlaku dalam perjuangan saya saat itu, melainkan ego dan harga diri. Untuk diabaikan, untuk dilupakan. Lagi.


* Naskah ini melalui proses edit minimal, tanpa mengurangi makna dan isi.

Tuesday, January 20, 2009

Rectoverso Moment Week#10 Winner

"Bunda"
Oleh: Jenny Jusuf


Satu setengah tahun berjuang melawan kanker, akhirnya Mama terpaksa menyerah. Namun, sebagaimana sifatnya yang tertutup dan tidak ingin menyusahkan orang, Mama menyimpan penderitaannya rapat-rapat, bahkan sampai detik terakhir. Hari itu, untuk kesekian kalinya beliau dibawa ke Rumah Sakit karena komplikasi setelah menjalani kemoterapi. Ia pergi ditemani Ayah, Paman, dan Nenek. Saya tidak merasa perlu ikut mendampinginya. Saya, yang sudah terlalu terbiasa dengan jadwal kunjungan rutin ke Rumah Sakit lima hari dalam sebulan, menganggap hari itu sama seperti hari-hari lainnya.

Saya berdiri di depan pintu, melepas kepergian Mama sambil melambaikan tangan. Ia, dengan daster panjang kesayangannya. Ia, dengan kepala polos tanpa penutup, karena ia membenci wig dan topi yang membuat gerah. Ia, dengan wajah mengernyit, tanpa satu pun keluhan terlontar. Hari itu tanggal 14 Juli. Mama pergi ke Rumah Sakit tanpa saya di sisinya. Ia tidak pernah kembali lagi.

Saya merelakan kepergian Mama, karena saya lebih memilih kehilangan seorang ibu ketimbang melihatnya menderita dalam kesakitan. Namun, perlahan-lahan kehilangan itu menjelma menjadi lubang hitam di hati. Saya merindukannya, dan kini saya tidak akan pernah lagi bertemu dengannya. Satu-satunya saat di mana kami dapat berjumpa lagi, barangkali nanti, ketika saya menyusulnya ke Surga. Meski saya tidak bisa memungkiri perasaan bahwa dalam saat-saat tertentu, ia terasa begitu dekat.

Seolah-olah Mama tidak pernah pergi dari sisi saya, ia “hadir” dalam saat-saat terberat di mana saya merasa hidup tidak lagi ada gunanya dan saya ingin mati saja. Ia hadir pada masa-masa paling mengecewakan di mana yang ingin saya lakukan hanya mengubur diri selamanya di bawah selimut dan menghindari dunia. Seakan-akan Mama ada dan berbisik, “Tidak apa-apa, Nak. Semua akan baik-baik saja”, meski tangannya tak dapat menjangkau wajah saya yang berairmata.

Ia hadir pada saat-saat penuh kebahagiaan di mana saya berkhayal dapat menghambur ke kamarnya dan menceritakan apa yang saya rasakan dengan penuh sukacita. Ia hadir pada masa-masa penuh kegembiraan ketika saya berbangga hati atas pencapaian yang saya raih. Seakan-akan Mama ada, tepat di sisi saya, tersenyum lebar dan berbisik, “That’s my girl. Bagus, Nak.”. Betapa saya rindu mempersembahkan setiap kemenangan dan keberhasilan saya untuknya, dan saya tahu dia tahu.

Setelah bertahun-tahun, akhirnya saya sadar: saya keliru. Mama tidak pergi ke tempat asing bernama Surga di mana kami terpisah selamanya. Saya tidak perlu menanti sampai mati untuk bisa berjumpa lagi dengannya. Saya tidak perlu menunggu sampai masa kontrak saya dengan dunia berakhir untuk bisa menemuinya.

Mama tidak pergi ke tempat lain. Ia pulang ke hati saya. Sebuah tempat di mana ia akan abadi dan tak terganti. Dan kami akan selalu bersama. Selamanya.

I know you’re listening, Mom. Welcome home.


...
Oh Bunda,
Ada dan tiada
Dirimu kan selalu ada
Di dalam hatiku
“Bunda” - Melly Goeslaw


* Naskah ini melalui proses edit minimal, tanpa mengurangi makna dan isi.

Wednesday, January 14, 2009

Rectoverso Moment Week#9 Winner

"Nina Bobo Untuk Yang Tercinta"
Oleh: Chichi Mindasari


Malam ini mataku tak mampu terpejam
Tiap detik bayangmu selalu menyapa
Rindu yang bergelayut semakin sesakkan dada
Apakah kau sudah terlelap, Sayang?
Tidurlah segera, karena esok harimu akan panjang
Karena esok kau berjanji akan bangun pagi untuk segera menemuiku
Pejamkanlah matamu, biarkan kesunyian malam membelai tidurmu
Impikan kebersamaan kita agar semakin indah tidurmu
Dan pastikan esok kau datang sebelum aku terjaga
Sehingga kaulah orang pertama yang kulihat saat mataku terbuka..


Lagu ini elus hati
Timang s'gala sedihmu
S’bagai satu redam perih
S’bagai sampul diriku

“Sebelum Kau Terlelap” – Dewa



* Naskah ini melalui proses edit minimal, tanpa mengurangi makna dan isi.

Wednesday, January 7, 2009

Rectoverso Moment Week#8 Winner

"Maaf Yang Tak Pernah Termaafkan"
Oleh: Yuni Ferawati


“Kamu memang nggak pantas jadi ayahnya Razi, kamu ada atau nggak ada… sama saja!”

Kata-kata pamungkas itulah yang aku ucapkan ketika Eky (suamiku) lagi-lagi berbuat kesalahan yang sama. Entahlah kali itu aku benar-benar sudah jenuh dengan kesalahannya yang itu-itu saja. Dan seperti biasa, Eky pun pergi meninggalkan kami dan aku tak peduli.

Satu minggu... dua minggu... tiga minggu berlalu, tak juga kudengar kabar darinya. Hatiku gelisah, perasaanku gundah. Ini tidak seperti biasanya. Ini bukan kebiasaan Eky.

Penantianku pun mendapat jawaban. Orang tuaku memanggilku dan mengatakan bahwa mereka telah melakukan rapat dengan orangtua Eky, dan keputusannya adalah: kami harus berpisah.

Saat itu aku hanya bisa diam, diam, dan akhirnya menangis. Meskipun rumah tangga kami sering diwarnai dengan pertengkaran, tapi aku tidak mau berpisah dengan Eky. Paling tidak untuk saat itu.

Ketika ibuku menanyakan: mengapa? Aku cuma bisa menjawab: aku mau tunggu sampai Eky mati! Entah mengapa kata itu yang keluar dari mulutku. Aku tidak bisa berpikir jernih, aku cuma mau mereka tahu bahwa cinta kami cukup kuat dan mampu menghalau rintangan yang ada.

Dua bulan setelah kejadian itu, aku mulai merasakan hal yang tidak biasa. Eky selalu hadir dalam mimpiku. Razi, yang saat itu baru berumur belum genap 2 tahun, mulai sering menanyakan ayahnya, padahal biasanya Razi tak pernah bertanya-tanya tentang Eky. Mungkin juga karena sekarang Razi mulai senang berceloteh, pikirku saat itu.

Mimpi-mimpi aneh tentang Eky terus menghampiriku. Tak hanya itu, aku pun mulai mengalami insomnia. Aku tak bisa memejamkan mata karena takut tidak dapat mendengar jika tiba-tiba Eky datang atau menelepon kami. Merasa mulai tidak nyaman dengan keadaan itu, aku lantas memberanikan diri mencari kabar Eky dengan bertanya kepada keluarganya, tapi hasilnya nihil. Mereka hanya mengatakan bahwa Eky ada di suatu tempat, mereka pun mengatakan bahwa Eky tidak akan kembali lagi ke Jakarta dan sudah merestui jika aku mau menggugat cerai dirinya. Aku sedih, aku kecewa dan murka. Aku marah pada keluarganya karena mereka tidak memikirkan perasaanku, atau paling tidak perasaan Razi. Kok, tega-teganya mereka berkata demikian.

Setelah bertukar pikiran dengan sahabatku, aku akhirnya memutuskan untk menyewa jasa pengacara demi mengurus perceraian kami. Aku mantap untuk meninggalkan Eky. Namun, meski sepertinya aku siap untuk berpisah dengan Eky, tak bisa kupungkiri bahwa aku masih mencintainya. Sangat.

Entah mengapa menjelang pembuatan draft gugatanku, aku merasakan seluruh sendi-sendi dalam tubuhku lemas sekali. Pikiranku kosong. Aku gamang menjalani keputusan ini. Dan, yang paling aneh, aku merasakan kangen yang teramat sangat pada Eky. Tapi tak ada yang bisa kulakukan selain menikmati kerinduan ini sendiri. Harus kuakui, aku kalah. Tak berdaya dengan keadaan dan tak mampu menolak kata “pisah”.

Malam itu, aku bertahajud dan memasrahkan apa yang akan terjadi pada Sang Khalik. Doaku malam itu: “Ya Allah, jika memang perpisahan adalah jalan yang terbaik bagi rumah tangga kami, aku mohon dimudahkan dan dilancarkan, tapi ya Rabb, sungguh aku takut akan perpisahan.”

Pagi itu, seperti biasa aku berangkat ke kantor, tapi kali ini rasanya tanpa nyawa. Langkahku gontai, mungkin karena sore nanti aku akan bertemu dengan pengacaraku.

Menjelang istirahat makan siang, satu pesan singkat masuk ke hp-ku. Kulihat segera. Dari Riris, adik iparku. Pesannya singkat: Nik, tolong hubungi aku segera, penting! Eky sudah nggak ada, Nik. Sudah pergi meninggalkan kita pagi tadi.

Lagi-lagi, aku hanya bisa diam, menangis, kemudian pingsan.

Mungkin inilah jawaban dari doaku malam tadi, mungkin juga inilah arti mimpi aneh tentangnya. “Jaga Razi ya,” ucap Eky dalam mimpiku semalam.

I miss him and only God knows how much.


Lagu “Lirih” yang dinyanyikan almarhum Chrisye benar-benar bisa menggambarkan apa yang yang kurasakan.


Kutahu semua tak mungkin kembali,
Kau telah pergi
Adakah kau mengerti, kasih
Rindu hati ini ingin memiliki lagi
Mungkinkah kau percaya, kasih?
Bahwa diri ini ingin memiliki lagi



* Naskah ini melalui proses edit minimal, tanpa mengurangi makna dan isi.

Tuesday, December 30, 2008

Rectoverso Moment Week#6 Winner

"Fajar Yang Telah Terbenam"
Oleh: Ratna Khomaini


Sakit memang jika orang yang benar-benar kita cintai harus pergi. Pedih rasanya hati ini bila penyesalan itu datang terlambat. Rasa ini datang begitu sempurna setelah ia benar-benar harus berada di alam ruhnya.

Ketika kita putus atau bercerai dengan orang yang kita cintai mungkin rasa sakit yang menghinggapi, tapi bagaimana bila kita ditinggal pergi untuk selama-lamanya? Apa yang mampu kita rasakan sedangkan menatap wajahnya saja sudah tidak bisa?

Mungkin orang menilai cerita ini hanya ada dalam sinetron atau novel saja, tapi inilah realitas yang harus aku hadapi. Dia mencintaiku dengan tulus, bahkan jarak ratusan kilometer rela dia tempuh hanya untuk dapat bertemu denganku. Sudah tak terhitung lagi berapa ratus e-mail dan sms yang tak terbalas, berapa ratus telepon yang tak terangkat, dan berapa ratus lagi aku menyakitinya dengan cacian serta perilaku yang dapat dikatakan kejam. Secara fisik dia memang jauh dari kesempurnaan, tapi jauh di balik semua itu ada keindahan yang menyeluruh dalam hatinya.

Dia seorang Fajar yang benar-benar menjadi fajar dalam kehidupanku. Selain orang tuaku, mungkin cuma dialah yang dapat mencintaiku dengan tulus, tahan dengan sifat kekanak-kanakanku. Namun selama kesempatanku masih ada, aku tak pernah menyadarinya. Dia ada untukku ketika aku benar-benar hancur ditinggal orang yang benar-benar aku cintai, yang membawa harta yang paling berharga. Dia ada untukku ketika semua orang memandangku sebelah mata akibat aib yang kubawa.

Sekarang, ketika cinta itu tumbuh dengan sempurna, ketika rasa ini menjadi semakin dalam, dia harus pergi. Seandainya aku tahu dia akan pergi secepat ini, mungkin waktu yang tersisa akan kuhabiskan hanya bersamanya.

Sekarang, yang dapat aku lakukan hanya memandangnya dengan mata hatiku, mengkristalkan dia agar tetap abadi dalam luth rabbani-ku.


Maaf ku telah menyakitimu
Ku telah kecewakanmu
Bahkan kusia-siakan hidupku
Dan kubawa kau seperti diriku...
Akhirnya juga harus kurelakan
Kehilangan cinta sejatiku...
Bila nanti esok hari
Kutemukan dirimu bahagia
Izinkan aku titipkan
Kisah cinta kita selamanya...


"Demi Cinta" - Kerispatih



* Naskah ini melalui proses edit minimal, tanpa mengurangi makna dan isi.

Friday, December 19, 2008

Rectoverso Moment Week#5 Winner

"Stay As Sweet As You Are"
Oleh: Jeny Khaeni


Indahkah hidup bila abadi ?
Masihkah cinta berharga saat usia adalah kekal?

Aku berhenti bertanya. Jiwaku letih sudah berteman dengan kegagalan berulang kali. Dalam sujud, sebaris harapan kugantungkan ke langit. Kuteriakkan dengan lantang agar langit sungguh-sungguh mendengar : “Aku hanya ingin hidup bahagia dan dimiliki pria yang benar-benar mencintaiku. Dan bimbinglah aku berproses dalam waktu mencintai dia seutuhnya.”

Pertemuan itu bukan yang pertama kali. Sepasang mata asing itu pernah kukenal di ruang dan waktu yang berbeda. Daya ingatku tidak mampu menembus waktu. Siapa pria itu? Kenapa tatapan mata dia begitu mendamaikan jiwa ? Batin kami seolah terhubung kembali. Seakan-akan ada magis yang sedang bekerja. Menyambung kembali sebuah rasa yang pernah terjalin. Dulu. Entah di dimensi mana. Aneh, tapi perasaan itu sungguh nyata. Dia berlalu dengan senyum, menyisakan tanya yang tidak terjawab.

Kemudian langit membuka jalan melalui perjumpaan kesekian kali. Indah pada saatnya. Alam merestui. Menarikku bersatu dengan dia dalam perjalanan kali ini, melangkah dan berproses dalam waktu yang tidak pasti. Waktu yang terbatas bukanlah untuk membatasi cinta yang tumbuh, justru memecutku menghargai waktu itu sendiri.

Tak ada cara memang menambah waktu dibumi. Namun pikiran kami melebur dalam tindakan nyata memperpanjang hubungan. Tak ada sumpah. Tidak ada janji muluk. Hanya sebuah tujuan sama: mencipta lebih banyak kebahagiaan dalam kebersamaan Karena cinta adalah kewajaran. Sealami hidup ini.

Hidup memang tidak pasti. Tapi kesungguhan cinta yang kulihat di matanya adalah pasti. Cinta yang dia beri senyata nafas yang berembus. Ringan dan bernyawa. Aku merasakan keabadian dalam cintanya. Begitu riil, hingga waktu tidak lagi merisaukanku. So, just stay as sweet as you are!


It wasn’t in the plan, not that I could see
Suddenly a miracle came to me
Safe within your arms, I can say what’s true
Nothing in the world I would keep from you
You could have been anyone at all
An old friend calling out of the blue
I’m so glad it was you


“Anyone At All” – Carole King


* Naskah ini melalui proses edit minimal, tanpa mengurangi makna dan isi.

Wednesday, December 10, 2008

Rectoverso Moment Week#4 Winner

"The Hardest Day"
Oleh: Nanda


Bali, 3 April 2008...

Setelah lebih dari satu jam keliling Kuta, akhirnya aku berhenti dan mulai berani menekan sebuah nama di telepon genggam untuk mengabarkan kedatanganku.

“S”.

Memang sengaja aku singkat namanya di daftar kontak, dengan harapan mengurangi kepedihan yang pernah tertanam dalam kenangan. Dua belas tahun yang penuh peristiwa, dari sejak mata kami bertemu, menemukan pasangan jiwa dalam diri satu sama lain, terpisah jarak ratusan kilometer, hingga harus terpisah hati karena "terpaksa" mencintai hati yang lain. Namun tidak sekalipun aku gentar karena cuma satu yang aku tahu: kami adalah sepasang sayap yang tak mungkin terbang tanpa pasangannya. Peluh dan airmata tak pernah jadi alasan untuk melepaskan dia. Dan kali ini aku berada di pulau Dewata, tanah indah yang mengalirkan sebagian darah di tubuhku dan tubuhnya.

Aku ingin bertemu, seperti janji kami yang dulu. Tanpa rencana, tanpa harapan yang muluk-muluk. Aku hanya ingin melihatnya. Itu saja. Sejak aku di Jakarta, entah kenapa, rasanya setiap hal yang kutemui menggiring aku untuk datang kembali ke sini, meskipun harus mendadak cuti sekian hari.

Akhirnya dia di depan mataku, sedikit terkejut, tapi sekaligus juga mengerti jika kami selalu bertemu untuk sesuatu. Dan sebelum aku mengungkapkan rinduku, lengannya mulai memelukku sembari membisikkan cerita jika aku dan dia kini telah lain dunia, terpisah tata cara memuja Sang Pencipta. Dan dia akan meminang kekasihnya.

Aku membeku hampir tak percaya, memilih diam. Nyaris tak bernyawa rasanya. Menggigil tubuhku saat dia katakan bahwa keputusan ini diambil enam bulan yang lalu. Aku teringat bahwa saat itu aku sedang di Jakarta, terbangun pagi-pagi buta lalu menangis tanpa tahu sebabnya. Ternyata… itu sebabnya.

Sekian pertanyaan ingin kuungkapkan, kuteriakkan, bahkan disertai tangis ketidakrelaan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Mulutku kelu, lenganku makin kuat mengait tubuhnya, dan jariku kian erat meremas punggungnya.

Dalam dada ada yang sangat nyeri dan kembali terluka, tapi batinku bicara: aku harus bersyukur sempat memeluk dia untuk terakhir kalinya, sebab ia akan pergi esok lusa.

Cerita cinta kami berakhir dan aku tahu aku akan berduka selamanya. Meskipun aku pun menyadari tidak pernah ada yang sia-sia, karena aku sempat memeluknya.

There it goes… up in the sky
There it goes… beyond the clouds
For no reason why
I can’t cry hard enough for you to hear me now
...


* Naskah ini melalui proses edit minimal, tanpa mengurangi makna dan isi.

Thursday, December 4, 2008

Rectoverso Moment Week#3 Winner

"Mencintai Sebatas Punggung"
Oleh: Sherly


Just a little girl
Big imagination
Never letting no one take it away
Went into the world
What a revelation
She found there’s a better way for you and me to be

("Goodbye" - Spice Girls)

Sembilan tahun yang lalu, kita duduk berseberangan dalam sebuah kelas bahasa Inggris. Aku berada di baris ketiga dari meja dosen, sementara dia di sebelahku, namun di baris kedua.

Aku tidak begitu menyadari seperti apa gerak-gerik dia di hari pertama, kedua, ketiga… pokoknya pada awal-awal kami para mahasiswa baru mengenal satu sama lain. Ternyata, dia unik. Dia berbeda dari yang lain. Dia tidak modis, pakaiannya biasa-biasa aja. Tidak merokok seperti teman-temannya. Tidak banyak bicara, bahkan sangat pendiam. Dia menjadi murid kebanggaan dosen Inggrisku.

Setelah cukup lama mengenal teman-teman sekelas, aku mendapati dia yang selalu kulirik. Dia yang selalu kucuri-curi pandang. Wajahnya, telinganya, rambutnya, matanya, hidungnya, bibirnya, rambut cepaknya, pakaiannya, tas birunya, tangannya, sepatu hitamnya, tulisan tangannya, suaranya yang sangat sulit kuingat di memori saking jarangnya di ngomong, dan apa pun yang bisa kucari tahu tentangnya.

Entahlah, sebatas membayang hangat tangannya merangkul tanganku, sebatas memikirkan senyum manisnya, sebatas mengkhayalkan skenario di antara kita berdua, sebatas mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang dia, aku sudah senang.

Saat jam belajar telah usai, dia pulang. Yang kulihat pulang hanya dia. Tidak kupeduli teman-teman lain pulang ke mana. Mereka hanya semut-semut yang berlomba lari berkerumun menuju pintu keluar bagai bongkahan gula pasir yang terjatuh dari roti manisku, karena ternyata ada satu makhluk lain. Dia bukan semut, tetapi dia adalah kupu-kupu. Sayapnya membuat hatiku terjerat dalam keindahannya. Kepakan-kepakannya membuat kepalaku menyimak arah terbangnya tanpa jeda sekali pun, sampai dia terbang menjauh. Sampai hanya terlihat satu titik kecil, lalu menghilang sudah.

Empat tahun berlalu. Kupu-kupu itu sudah pindah alamat. Dia sudah ke tempat lain yang sangat jauh dari jangkauanku. Dia sekarang sudah bekerja di tempat lain.

Aku terus merindukannya, tapi aku hanya bisa pasif. Aku seorang cewek pemalu. Tak berani mengutarakan isi hati, dan tak akan pernah menyampaikan rasa ini padanya. Aku adalah kembang sepatu yang dulu pernah dihinggapinya sesaat. Aku tak bisa ke mana-mana, tak bisa mengejar kupu-kupu itu, karena mahkotaku melekat pada tangkai pohon. Teringat tahun pertama di kampus, seorang temanku bilang, katanya dia suka sama aku. Aku sempat senang menangkap kata-kata temanku itu. Sepertinya memang benar. Terlihat dari tindak-tanduk dia yang diam-diam tapi sebenarnya dapat terbaca juga. Tapi rasa ini hanya terpenjara di dalam hati kita masing-masing, sampai satu kabar yang membuatku terkejut, tepatnya lima tahun setelah kami lulus: dia menikah. Perempuan yang dinikahinya tampak cantik, tapi aku tidak mengenalinya secara langsung. Wanita itu berasal dari dunia yang sangat berbeda dengan duniaku. Baru dua bulan lalu, kutahu dia sudah menikah. Dia tidak mengundangku dan memang lebih baik begitu. Pedih rasanya. Dia sudah melupakan aku. Sementara dia masih ada di hatiku.

Kini aku hanya bisa merindukan masa lalu itu, mengenang hadirnya, dan mencintai sebatas ruangan hati yang tak sampai mengalirkannya lewat kata-kata. Hanya isyarat cinta yang mungkin masih mempertemukanku dengannya secara tiba-tiba di toko buku Gramedia, toko buku Aksara, food court MAG, dan tempat-tempat umum lainnya. Terkadang, aku menemukan dia lagi sendirian di toko buku tanpa sepengetahuannya. Tapi tak seperti dulu, aku tak bisa lagi menikmati hadirnya terus-menerus sampai tersisa titik kecil yang pada akhirnya lenyap. Aku hanya bisa melihatnya sekilas. Terkadang, kami tidak sengaja saling melirik dan terpaksa menyapa satu sama lain sebatas ‘hai’, lalu sudah, selebihnya kami memalingkan muka masing-masing untuk kembali sibuk sendiri dalam jarak antar rak buku. Cukup sudah aku mencintainya. Mungkin suatu hari aku mendapati orang lain yang akan hidup bersamaku. Tapi ingin kuucapkan terima kasih atas rasa yang pernah tumbuh itu.

* Naskah ini melalui proses edit minimal, tanpa mengurangi makna dan isi.

Wednesday, November 26, 2008

Rectoverso Moment Week#2 Winner

"Dunia Maya Itu Nyata"
Oleh: P, Bandung.


Dunia maya itu nyata. Senyata apa yang kami rasakan sejak dua tahun lalu. Dia jawaban dari kebutuhan saya untuk memiliki seseorang yang bisa diajak berbagi segala hal. Tidak ada hal yang absurd menurutnya. Pembicaraan soal Tuhan, soal cinta, dan soal apapun yang belum tentu akan mendapat respon fair jika saya bicara dengan orang lain. Yang membuat saya pertama kali tertarik dengannya adalah ia tidak beragama dan ia sangat humanis. Bertukar pikiran dengannya seperti membuka lembaran buku yang merupakan kompilasi dari banyak pelajaran hidup. Dan saya seperti anak kecil yang punya mainan baru. Saya pun mulai kecanduan bicara dengannya.

Ketika pukul dua pagi ia menelepon saya cuma untuk bicara hal-hal tidak penting dan sama-sama menertawakan apa yang kami kira penting adalah kesenangan tersendiri. "Manusia ini tidak standar", itu yang sering sekali terlintas di kepala saya. Dan saya jatuh cinta. Medianya maya tapi rasa itu nyata. Rasa yang hadir dari kenyamanan. Nyamannya tidak dihakimi. Rasa yang hadir karena ketenangan. Tenang bersama seseorang yang fisiknya berada jauh tapi saya yakin ia selalu menyediakan jiwa dan pikirannya untuk kami berdua. Rasa lega ketika beban di hati sudah mau tumpah dan saya tahu saya memiliki dia untuk menangis. Semua itu saya dapatkan dari hubungan kami. Begitupun ketika ia penat menghadapi anak-anak buahnya serta birokrasi yang membuat stres. Sebagai seorang pemimpin, ia tidak boleh terlihat lemah. Namun ia punya saya untuk menangis, atau sekadar berteriak kesal. Saya tidak merasa perlu tahu apa pun lagi tentang dia. Siapa pun dia, apa pun dia, dia adalah sahabat saya dalam segala kondisi. Begitu juga saya, yang dia bilang adalah tempat jiwanya pulang.

Dan ketika pada suatu malam, dia bilang bahwa dia mencintai saya, dan saya balas dengan perkataan yang kurang lebih sama, itu sudah cukup. Apa yang kami punya sudah cukup membuat kami lengkap. Tak perlu kami membuat hubungan ini makin nyata dengan pertemuan. Tidak usah. Apa yang kami punya sudah sangat membahagiakan. Buat saya, dia adalah nyata. Bagi dia, saya adalah nyata. Apa yang kami miliki adalah nyata. Ketika sudah berlalu dua tahun dan kami masih menyimpan cinta itu dalam hati, biarlah seperti ini. Di sinilah kami, berada pada dua jalan berbeda, kembali pada cubicle kami masing-masing. Dia, yang dinanti oleh seorang perempuan yang menggendong seorang anak, dan saya, yang dinanti oleh seseorang di ujung jalan itu.

Ketika saya menulis ini, sambil mendengar lagu “We’re All In The dance” dari Feist, saya yakin cinta itu akan terus ada.

Night and day, the music plays on
We are all part of the show
While we can hold on to someone
Even though life won’t let us go

We all go round and round
Partners of lost and found
Looking for one more chance
All I know is,
We’re all in the dance



* Naskah ini melalui proses edit minimal, tanpa mengurangi makna dan isi.
** Atas permintaan ybs, nama asli pengirim tidak dicantumkan di sini. Thank you for sharing your life story with us.